The word "gunungan" in Javanese language means "like
a mountain", or "similar in shape to a mountain". Gunungan is one of
the physical manifestation of thankfulness offerings ("sajen
wilujengan" in Javanese) which is particularly made for specific
purpose in a traditional ceremony such as "Wilujengan Negari" on every
garebeg.
There are six kinds of gunungan which are usually made in the Garebeg
ceremony, as follows: Gunungan Lanang, Gunungan Wadon, gunungan Gepak,
Gunungan Pawuhan, Gunungan Dharat, and Gunungan Kutug bromo. from the
sixth gunungan, there are only five gunungan displayed on the yearly
Garebeg ceremony, such as Gunungan Lanang, Gunungan Wadon, Gunungan
Gepak, Gunungan Pawuhan and Gunungan Dharat. Gunungan Kutug Bromo is
only made one every eight years on the year of Dal (year in Javanese
calendar), to be served in the Garebeg Mulud Dal.
The offerings of gunungan is a sacred offerings which has been prayed
with "mantra". Therefore gunungan is considered magic and able to
refuse bad situation "tolak bala". This common sense is strengthened by
a condition that the offerings is based on "kain bangun tulak",
something like clothes with magical power. The special building for
gunungan is called as omah gunungan (omah = house).




cathok (Jawa)
gesper (Indonesia)
a gesper (English)
cathok gawel
Orang yang suka mengata-ngatai dan mencela orang lain.
Fill in your date of birth Display on pop up window
jogja never ending asia,mgk kata itu tidak cukup menggambarkan jogja,kota yang penuh dengan warisan budayanya.
5 setengah tahun disana membuatku seperti sudah menjadi bagian erat dari kota itu. Sekarang aku di jakarta,tapi tetap nuansa jogja selalu membuatku rindu...dalam waktu dekat aku ingin cari ...
stephanus arbi(25) - swasta
Tell your friend about GudegNet
Code