Kenikmatan secangkir kopi semakin lengkap ketika berpadu dengan suasana warung yang menyerupai taman. Sebagai pengunjung, semua panca indera Anda benar-benar dimanjakan, tak hanya lidah untuk mengecap kenikmatan, melainkan juga mata untuk memandang kesegaran tumbuhan dan batang-batang bambu yang mengelilingi bangunan bergaya pedesaan ini.
Beberapa meja kayu kusam memanjang di bagian depan. Seorang laki-laki menyalakan komputer jinjing lalu menyeruput kopi dari cangkir keramik. Asap kopi itu membubung di udara. Laki-laki itu meletakkannya, lalu membaca buku sambil menikmati kesegaran angin sore.
Beberapa orang yang duduk berseberangan, berbincang satu sama lain. Piring-piring kosong terserak di atas meja. Laki-laki gondrong bercelana pendek mengangkat kaki lalu meletakkannya di atas bangku panjang. Sambil meneguk teh dari gelas besar ia berbicara lalu tertawa terbahak-bahak.
Suasana di Warung Semesta seperti sebuah warung yang dipadu dengan rumah dan rumah makan. Setiap orang boleh melakukan aktivitas seperti di warung: menaikkan kaki, menyeruput kopi sembari membicarakan apa saja, mulai dari politik negara yang amburadul sampai urusan asmara. Lalu, menikmati menu nasi tempe penyet, teh panas sampai menu bergaya rumah makan seperti teh susu, mi kriuk semesta dan lain-lain.
Seperti halnya alam semesta yang selalu memenuhi kebutuhan umat manusia, demikian juga warung ini. Anda bisa meminta apa saja disini: mulai menu yang tak tercantum dalam daftar, sampai cara makan bergaya prasmanan.
Suasanan nyaman itu membuat para pengunjung lupa waktu. Awalnya, warung ini buka dari jam 10 pagi hingga pukul 2 dini hari. Namun, jumlah pengunjung yang terus naik, membuat pengelola membuka warung ini selama 24 jam, non – stop. Dari pagi hingga pagi lagi. Pada akun twitter Warung Semesta, pernah tercantum kalimat “kami menjual waktu, bukan makanan atau minuman.”
Pada tangan orang-orang kreatif, waktu bisa juga dijual, sedangkan makanan dan minuman menjadi nilai tambah.
Ah, ada-ada saja!



awak (Jawa)
badan (Indonesia)
body (English)
ngawak-awakake
Merusak nama baik seseorang dengan menyamakannya dengan sesuatu yang mirip, seperti ungkapan "hidungnya bagai buah terong"
Aku cah asli Jogja kuliah di Jakarta dan sekarang mengadu asib di Equatorial Guinea, West Africa. Pas liat photo Jogja di GudegNet, hhhmmm serasa ada di Jogja.
Hujan rintik-rintik di seputaran kotabaru ku lalui penuh suka besama istriku. Sungguh berat melupakan JOGJA...
...
herru soel(30) - swasta
Beritahu teman Anda tentang situs GudegNet
Kode
pameran perdangangan investasi dan seni budaya indonesia andra and the backbone ahmad dhani school of rock 1st jogja international classic bike show hot discount party - bedah rumah dan bangunan l.a. lights indie movie lusy laksita kedai digital jogja yogyakarta music festival academy 2012 secondhand serenade desa gilangharjo walls dung dung puri artha hotel royal ambarukmo yogyakarta lia mustafa musikal laskar pelangi jbr niken larasati jogja sma 17