
Pohon-pohon tinggi berdiri di depan Gereja Santo Antonius Kotabaru, Yogyakarta. Pada bagian tengahnya terdapat jalan setapak. Sebuah rumah kusam berpagar hitam ada di sisi utara. Dulunya, Kotabaru ialah kawasan elit. Saat ini, kadang-kadang beberapa orang Belanda datang untuk melihat kembali rumah leluhur mereka. “Nostalgia,” katanya.
Kawasan yang dulu disebut Niuwe Wijk ini mulai berkembang tahun 1920. Situasi itu disebabkan semakin banyak orang Belanda yang menetap di Yogyakarta. Saat itu industri gula, sektor perkebunan dan pendidikan berkembang pesat. Lalu, kawasan di tengah kota ini didesain menjadi tempat yang penuh dengan berbagai fasilitas seperti taman di depan gereja.
Gereja Kotabaru ialah gereja kedua setelah Gereja Kidul Loji. Lalu pada tahun 1918, seorang Romo berkebangsaan Belanda, J. Strater, S.J., merintis berdirinya Gereja Kotabaru. Gereja ini diresmikan dan dipakai pada 26 September 1926 oleh Mgr. A. van Velsen S.J.
Gereja ini berdiri gagah di tengah kawasan perumahan, berimpitan dengan Jalan I Dewa Nyoman Oka. Beberap ciri menunjukkan bahwa gereja ini meniru corak gereja di Eropa, seperti menara yang tinggi, pilar-pilar kokoh dan atap gereja yang berbentuk seperti tabung yang diiris bagian tengahnya.
Pada jaman penjajahan terdapat pembedaan antara orang-orang pribumi dan Belanda, termasuk dalam urusan berdoa. Ketika ibadat di dalam gereja, orang-orang Belanda duduk di bangku. Sedangkan orang pribumi duduk secara lesehan di lantai. Pada setiap bangku sudah dicantumkan nama-nama orang Belanda. Tidak demikian halnya dengan orang-orang Jawa yang duduk lesehan. Setelah Konsili Vatikan II situasi ini berakhir.
Wilayah Kotabaru dibangun persis seperti kota-kota di negeri Belanda yang mengikuti pola melingkar (radial). Ada titik pusat atau sentral dari setiap wilayah. Lalu, bangunan lain tumbuh di sekitar titik tersebut. Gereja Kotabaru menjadi sentralnya. Pada sisi barat, ada Gedung Bimo. Gedung yang saat ini sering digunakan untuk pesta resepsi ini merupakan bangunan klasik bergaya Eropa lainnya. Lalu, masih ada gedung yang dulunya digunakan sebagai Kementrian Luar Negeri. Lokasinya ada di pertigaan menuju Jembatan Gondolayu.
Pada bagian lainnya ditumbuhi berbagai tanaman hias dan bunga yang indah. Ada juga trotoar yang dirancang lebar serta jalan raya atau boulevard yang luas, seperti di depan gereja.
Saat ini Kotabaru menjadi salah satu kawasan cagar budaya. Bangunan-bangunan yang tampak kuno dan klasik itu harus tetap terjaga dan terawat. Dilarang keras merubah, apalagi merobohkan bangunan-bangunan bernilai sejarah tinggi itu. Bisa jadi agar orang-orang yang mengunjungi wilayah ini tetap mengingat bagian sejarah bangsa Indonesia. Bagaimanapun juga sejarah ialah guru yang mengajari kita menerima masa lalu, mensyukuri masa kini dan mulai merancang masa depan yang lebih baik. Semoga! (Albertus Indratno)



balung (Jawa)
tulang (Indonesia)
bone (English)
balung tinumpuk
Menikahkan dua anak sekaligus.
sebenarnya saya udah sering dengar mengenai GudetNet namun baru beberapa waktu
lalu membukanya, dan ternyata saya cukup tertarik mengenai isinya.
yang paling mengesankan adalah GudetNet sangat intens mengenai apa yang ada di
jogja dan apa yang bisa diberikan untuk orang jogja. saya cukup ...
Marina Octhalina(19) - Penyiar Radio Masdha FM
Beritahu teman Anda tentang situs GudegNet
Kode
pameran perdangangan investasi dan seni budaya indonesia andra and the backbone ahmad dhani school of rock 1st jogja international classic bike show hot discount party - bedah rumah dan bangunan l.a. lights indie movie lusy laksita kedai digital jogja yogyakarta music festival academy 2012 secondhand serenade desa gilangharjo walls dung dung puri artha hotel royal ambarukmo yogyakarta lia mustafa musikal laskar pelangi jbr niken larasati jogja sma 17