Seni & Budaya

Malam Kedua di Pentas Pertunjukkan Bedog Arts Festival

Oleh : Iwan Pribadi / Senin, 00 0000 00:00
Malam Kedua di Pentas Pertunjukkan Bedog Arts Festival

Bedog Arts Festival - Tari NgeleakSabtu malam yang lalu (8/8) merupakan malam diadakannya Pentas Seni Pertunjukkan kedua dalam rangkaian kegiatan Bedog Arts Festival 2009, setelah malam sebelumnya juga telah diadakan Pentas  Seni Pertunjukkan serupa di Studi Banjarmili  di tepi Sungai Bedog ini.

Pementasan yang dimulai sekitar pukul 20:00 WIB ini dibuka oleh Wisnu HP dari Ponorogo yang membuka pertunjukkan dengan karya yang diberi judul Tubuh-Tubuh, sebuah tarian kontemporer yang dipadukan dengan pemutaran video pada sebuah layar putih yang menjadi latar belakang panggung geraknya.

Kemudian menyusul Acapela Mataraman di bawah pimpinan Pardiman Joyonegoro yang menampilkan anggota-anggotanya yang berusia muda, dengan seragam pramuka kelompok ini menghangatkan suasana dengan nyanyian dengan diringi musik dari mulut mereka sendiri. Benar-benar sebuah acapela ala Yogyakarta yang unik.

Setelah dua orang pemuda dari Universitas Negeri Surakarta (UNESA), melanjutkan pentas seni malam itu dengan Tari Gambuh yang sedikit mengingatkan kita akan Tari Ngremo dari Jawa Timur, Lo Chau Win dengan musik PIPA-nya kembali tampil di hadapan penonton, setelah malam sebelumnya juga melakukan penampilan di tempat yang sama. Hanya saja kali ini ia sendirian saja memainkan alat musik petik dari Cina yang dipangkunya itu, tanpa berkolaborasi dengan artis yang lain.

Suasana malam itu dibuat agak sedikit mistis dan mencekam oleh Agung Gede Rama yang membawakan Tari Ngeleak. Bagaimana tidak, mendadak suasana menjadi sepi mencekam ketika melihat gerakan-gerakan tari Agung Gede Rama, itupun masih ditambah dengan latar belakang suara yang disajikan untuk tarian ini sesekali memperdengarkan suara lolongan anjing.

Berikutnya, alat-alat musik yang menghasilkan suara-suara seperti suara hujan, ombak laut, angin, dan petir menggelegar mengiringi Imas Fatimah (Daur Lungsuran) yang membawakan tarian yang diberi judul Karam.

Tari Gandrung dari Banyuwangi yang dibawakan oleh dua orang gadis mendapat kehormatan sebagai tarian penutup pergelaran malam itu, dan pada bagian akhir tarian para penari tersebut bergerak menuju arah penonton dan mengalungkan selendang mereka pada penonton yang dipilih untuk kemudian ikut menari bersama di panggung, tanpa memperdulikan bisa atau tidak si penonton menari mengikuti irama. Sehingga dari sini munculah gerakan-gerakan jenaka yang menyegarkan suasana malam itu.

Namun demikian seiring berakhirnya pentas seni malam itu bukan berarti akhir dari rangkaian kegiatan Bedog Arts Festival,  sebab masih ada dua program yang tersisa yang akan diselenggarakan pada esok harinya (9/8) yaitu Lomba Seni Anak dan Pemutaran Film dan Penutupan.

Foto: Liebestraumus

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM



    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    SWADESI ADHILOKA

    SWADESI ADHILOKA

    Handayani FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini