Dalam berkarya, seniman pun bisa mengalami kejenuhan atau suatu keadaan yang tak memungkinkan mereka untuk menghasilkan karya baru. Untuk kembali mendapatkan semangat baru dalam berkarya, ternyata bisa diperoleh dari karya lama yang mungkin tak lagi pernah diperhatikan.
Itu pun terjadi pada seniman I Made Arya Palguna, yang memperoleh semangat baru dari sejumlah karya lamanya. Hal tersebut dituangkannya dalam pameran seni rupa 'Menggali Tulang' yang digelarnya pada 27 April hingga 18 Mei di Tembi Contemporary Yogyakarta.
"Pameran ini karena saya mengalami
mandeg (macet -
red) dalam berkarya seni. Tapi akhirnya berkat karya-karya lukisan saya yang lama malah muncul spirit baru untuk berkarya dalam bentuk yang baru," katanya di Tembi Contemporary, Sabtu (1/5).
Pada pamerannya tersebut, Palguna menghadirkan sebanyak 18 karya yang terdiri dari 12 patung dan 6 lukisan. Menurutnya, karya lukis yang diciptakannya pada tahun-tahun lalu ternyata mampu memberikan semangat dan ide baru yang terwujud dalam karya patungnya.
"Seluruh karya patung saya yang saya buat pada tahun ini tercipta karena karya lukis yang telah saya ciptakan pada tahun sebelumnya. Makanya antara karya patung dan karya lukis saya memiliki tema yang sama yakni hubungan keluarga antara anak dan kedua orang tuanya," terang seniman yang juga anggota Sanggar Dewata Indonesia (SDI) itu.
Menurutnya, tema 'Menggali Tulang' tak sekadar tentang bagaimana menghadirkan karya patung baru dari karya lukis yang lama, tapi bagaimana pengalaman tersebut mampu melahirkan semangat baru dalam berkarnya. "Ini adalah pengalaman pertama saya menemukan spirit baru dalam berkesenian dengan cara mematung dari dari lukisan," ungkapnya.
Terkait judul pameran 'Menggali Tulang', Palguna menyatakan istilah tersebut didapatnya dari upacara adat batak yakni 'Mengakoholi Tulang'. Upacara yang selalu dilaksanakan secara besar-besaran tersebut merupakan proses penggalian tulang leluhur untuk kemudian dibuatkan kuburan permanen dari beton yang dihias berbagai macam ukiran.
"Upacara ini sendiri sering dilaksanakan oleh keluarga yang sudah lama merantau keluar pulau dan berhasil. Sehingga ketika kembali ke kampung halaman mereka membuat syukuran dan melaksanakan upacara ini sebagai ucapan terimakasih kepada leluhur," papar perupa yang istrinya orang Batak itu.
Sementara itu penulis dalam pameran ini, Rifky Effendi menuturkan, dalam penggalian sebuah semangat tentulah ada berbagai macam cara yang ditempuh, termasuk yang dilakuan Palguna yakni dengan mencoba me-re-create karya lama ke dalam sebuah media ungkap yang baru yakni patung.
"Kecenderungan seperti ini lazim dilakukan oleh para perupa sejak jaman seni modern dahulu seperti yang dilakukan oleh Pablo Picasso atau Affandi ketika membuat patung-patungnya. Bagi mereka melakukan hal ini bukan sekedar menyegarkan kembali sebuah gagasan lama tetapi juga memberikan pengalaman berbeda ketika berhadapan dengan idiom-idiom baru," tulisnya.
Menurut Rifky, karya-karya yang dipamerkan oleh Palguna ditampilkan dengan memanfaatkan salah satu elemen dan membubuhkan karya-karya tersebut dengan nilai dari konteks ruang dan waktu berbeda.
"Lihat saja karya patung kepala lelaki dengan anjing-anjing di lehernya pada karya 'Balinese Sound', yang diambil dari lukisannya 'I Feel Bad with my Face' (2003), patung 'Gigolo' dengan lukisannya berupa sepasang insan sedang menjalin cinta di pantai, dll," tukasnya.
Dalam karya-karya tersebut, Palguna seolah membangunkan kembali nilai-nilai yang terpendam di masa lalu, kemudian memberikan daging dan darah segar pada sosok tubuh pada karyanya terdahulu, serta meniupkan ruh-ruh baru pada tubuh mereka.
"Melalui patung–patung figuratif itu, Palguna menggambarkan gestur manusia yang polos, penuh kesederhanaan dalam suasana pertalian cinta kasih yang tulus, riang, penuh hasrat hidup, hakiki dalam hubungan – hubungan manusia dengan lingkungan serta alam," jelasnya.
Simpan di: