Demikian antara lain hasil riset doktoral Arifuddin Ismail (54 tahun), setelah melakukan
penelitian dengan menggunakan metode grounded research dengan pendekatan historis, kasus, normatif dan relativitas terhadap
para nelayan di Mandar, Sulawesi barat. Hasil riset putra kelahiran Majene berjudul “Islam Dalam Ritual Nelayan Mandar (Studi
di Pambusuang Polman Sulawesi
Barat)” ini dipresentasikan dalam promosi terbuka untuk memperoleh Gelar Doktor Bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN
Sunan Kalijaga, di ruang Convention Hall, baru-baru ini.
Di hadapan Tim Penguji antara lain: Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, MA., M. Phil.,
Prof. Dr. Dudung Abdurrahman, M. Hum., Dr. Maharsi, M. Hum., Dr. Mohammad Soehadha, S. Sos., M. Hum., Prof. Dr. H. Mudjahirin
Thohir, MA., (Promotor merangkap Penguji) dan Dr. Hamim Ilyas, MA., (Promotor merangkap Penguji), Promovendus lebih jauh
memaparkan, implikasi dari proses
akulturasi Islam dan nilai lokal masyarakat nelayan Mandar adalah munculnya Islam lokal sebagai nilai budaya baru yang
kemudian menjadi tradisi yang mewarnai konstruksi keagamaan, sekaligus kebudayaan nelayan Mandar.
Munculnya Islam telah mempromosikan posisi Anangguru sebagai elite sosial yang penting.
Kehadiran Anangguru tidak hanya berfungsi untuk menjada ritme keagamaan, dengan membuka pengajian al Qur’an dan kitab klasik,
tetapi juga menjadi pemimpin
segala kegiatan ritual masyarakat nelayan Mandar.
Pranata sosial-budaya seperti tradisi mappatammag koroang (tamat mengaji), maulidan,
makkuliwa, maqappu (ritual menjelang ke laut) dan upacara daur hidup menjadi tempat persemaian tradisi Islam lokal. Pembacaan
berzanji disertai ritual khusus, menjadi ekspresi cita rasa Islam bercampur tradisi lokal. Cita rasa Islam Lokal ini telah
diterima sebagai nilai dan tradisi yang membentuk identitas keislaman masyarakat nelayan Pambusuang. Menyebut agama Islam
tidak hanya bermakna malaksanakan ritual yang wajib seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Tetapi juga keseluruhan proses
ritual sosial.
Islam tidak terpisah antara masjid dan ruang kebudayaan. Islam ada di masjid, di rumah dan
di perahu. Sementara, keseluruhan
praktek Islam lokal di Pambusuang(Mandar) hingga saat ini sulit dipengaruhi modernitas, karena tradisi dan Islam sudah
menyatu sebagai bentuk agama yang disemaikan dalam pranata-pranata sosial yang telah mapan dan kuat.
Dari analisis disertasinya, bapak 4 putra dari istri Sri Samiaji Mujiarti ini juga
mengungkap, akulturasi Islam dengan ritual nelayan Mandar menjadi ajang peneguhan keyakinan akan kemahakuasaan Tuhan di muka
bumi, memancarkan semangat kerja (motivasi), keberanian (kepercayaan diri), kejujuran, serta pembentukan mentalitas ke arah
lebih baik.
Ritual bukan hanya media untuk menghubungkan diri dengan Allah SWT (Sang Maha Kuasa) untuk
mendapatkan perlindungan keselamatan jiwa dan harapan memperoleh hasil yang lebih banyak, melainkan juga pembentukan
mentalitas yang baik bagi nelayan. Jadi ritual sangat fungsional bagi masyarakat nelayan. Terbukti sampai sekarangpun tidak
hanya nelayan tradisional yang menjalankan ritual ini.
Nelayan dengan menggunakan teknologi modern di sana juga ikut melakukannya. Para nelayan
modern di sana juga berkeyakinan bahwa, teknologi telah menawarkan kecepatan, ketepatan, hasil yang maksimal dan
kenyamanan,tetapi mereka tetap meyerahkan rezeki dan keselamatan mereka kepada kegendak Allah SWT, sehingga ritual tetap
mereka lakukan. Arifuddin Ismail menjadi doktor yang ke 333 yang telah diluluskan Program pascasarjana UIN Sunan Kalijaga.
Simpan di: