
Sebanyak lima komposer muda berbakat berhasil memukau ratusan penonton di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dalam rangka "Gelar Karawitan Orkestra" pada Selasa malam (14/05). Acara berlangsung selama 1 jam 15 menit menampilkan karya para maestro terdahulu yang dikomposisi unik serta cerdas oleh kelima komposer karawitan yang berasal dari 4 kabupaten dan 1 kodya.
Penampil yang mendapatkan kesempatan pertama adalah Sudaryanto, S.Sn dengan garapan gendhing Yen Ing Tawang Ono Lintang selaku perwakilan dari Kabupaten Bantul. Selanjutnya komposer Kelik Parjiyo asal Kulon Progo dengan gendhing Gugur Gunung dimana dalam penampilannya ditambah gaya vokal rap.
Tidak kalah menarik, Welly Hendratmoko, S.Sn asal Sleman menampilkan sajian sangat apik mampu membuat gendhing Gundul-gundul Pacul memiliki warna yang berbeda dari aslinya. Selanjutnya, Muklas Hidayat dengan gendhing Semar Mantu mendapatkan sambutan meriah dari banyak penonton. Komposer itu menambah alat musik trompet masuk kedalam komposisi gendhing tersebut.
Penampil terakhir, dengan konsep busana Bali, Danang Rajiv beserta rekan pengrawitnya, menyuguhkan gendhing Tatanya menjadi lebih beda dan unik. Semua komposer menunjukkan kemampuan masing-masing dan mampu mengundang decak kagum penonton yang sebagian besar adalah anak muda itu.
Dalam kesempatan tadi malam, Kepala Taman Budaya Yogyakarta, Sukisno, M.Sn, mengapresiasi kegiatan tersebut secara positif. "Acara ini terselenggara berkat sebuah kegelisahan untuk mengangkat karawitan sebagai sebuah seni yang dapat berdiri sendiri, bukan kanca wingking (pengiring) sebagaimana pertunjukkan dalam ketoprak, wayang atau kesenian lain," jelasnya.
Agar mendapatkan eksistensi tersebut, perlulah bila Gelar Karawitan Orkestra ini menjadi ajang rutin untuk "Jumenengke" (turut menjaga eksistensi) calon-calon pangripto (pencipta) karawitan muda agar memiliki media untuk berkesenian. "Untuk dapat berdiri tersebut, tentunya membutuhkan proses panjang dan selalu memiliki semangat untuk berkarya," tambahnya.
Tentu saja pengakuan bagaimana sebuah karya dapat dinikmati, dan masuk dalam kategori berbobot akan datang dari masyarakat selaku pendukung, pemerhati dan penikmat. Sebuah langkah realistis yang menerangkan jika Taman Budaya Yogyakarta merupakan rumah kreatif bagi seniman dari berbagai latar belakang ilmu sebagai dapur sebuah proses kesenian dan laboratorium seni budaya.
Seni & Budaya
Mempertahankan Eksistensi Karawitan sebagai Seni Agung




Kirim Komentar