Pendopo
Dari :

Tanggal :
Jadwal Kereta Api
Jadwal Pesawat
Ke :

Tanggal :
Jadwal Kereta Api
Jadwal Pesawat
Pendopo > Berita > Seni & Budaya

Jumat, 12 Maret 2010, 10:23 WIB

Masa Puber Berkesenian Paguyuban Sidji

Joko Widiyarso - GudegNet



Delapan belas perupa yang tergabung dalam Paguyuban Sidji, mulai 9-30 Maret mendatang menggelar pameran bersama 'Puber #1' di Tembi Contemporary, Jl. Parangtritis, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Mereka adalah 18 seniman yang terdiri dari Alex Landung Purnomo, Dwi Haryanta, Fikri Ipiq, Gunadi, Joko Indaryanto, Jumadi, Kuat, Mardiyanto, Nurbaito, Nursyam Filantrophy, Pencus Santo, Rudy Prastyanto, Sadarisman, Seppa Darsono, Suraji, Suharman, Suryadi dan Yun Soroso.

Puber #1 dipilih sebagai tema pameran seni rupa mereka yang keenam kalinya untuk menunjukkan eksistensi dalam proses berkesenian paguyuban yang telah berumur lebih dari satu dekade ini.

Perubahan fisik dari anak-anak yang sedang beranjak dewasa dan diikuti oleh perubahan psikis kognitif, suatu pemahaman dalam berpikir, serta perubahan sosial, disebut sebagai masa puber atau pubertas.

Pengamatan mereka akan perubahan-perubahan fisik, psikis, kognitif dan sosial masa puber memicu ide sebagai rangsangan untuk menghasilkan karya yang berkualitas.

Semisal karya Dwi Haryanto yang sebelumnya akrab dengan gaya dekoratif, kini cenderung bermain dengan figure dan obyek tunggal. Sementara Kuat, yang dulu melukis dengann corak abstrak sekarang bereksplorasi dengan stensil, screen printing dan spray paint diatas kanvas.

Meski berasal dari desa, dengan bekal semangat ikatan kesukuan atau kohesi etnisitas yang dipunyai kelompok ini, mereka tetap hidup dan eksis sampai saat ini. Dengan semangat etnisitas yang didalamnya terkandung unsur kesahajaan serta keterbatasan sekaligus dalam hidup sekaligus berkarya dalam kesenian mereka bisa bertahan.

"Semangat bersahaja ini yang kami jaga dengan upaya terus berkarya dan berproses kreatif hingga bisa berusia sepuluh tahun. Target kami juga sederhana, bisa berpameran minimal sekali dalam setahun," kata anggota Kelompok Sidji, Nursyam Filanthropy di Tembi Contemporary, Bantul, Kamis malam (11/3)

Perubahan gaya penciptaan seni rupa Kelompok Sidji terjadi pada sejumlah anggotanya. Nursyam memberi contoh karya Dwi Haryanta yang beberapa tahun lalu akrab dengan gaya dekoratif yang ramai, belakangan ini lebih cenderung asyik bermain dengan figur dan obyek tunggal.

"Kemudian ada Kuat yang dulu banyak melukis nuansa abstrak, sekarang sibuk bereksplorasi dengan stensil, screen printing serta spray paint diatas kanvas yang membuat karya Kuat menjadi unik," kata Nursyam.

Namun usia sepuluh tahun yang telah dijalani kelompok Sidji ini, tak merubah eksistensi teknis berkarya beberapa anggotanya. Seperti yang ditampilkan Yon Suroso yang hingga kini masih bergelut di dunia realisme dengan obyek sepeda yang sekarang muncul makin atraktif.

Sementara Yon Suroso, Nurbaito masih menampilkan karya tentang romantisme  kehidupan metropolis dengan aneka obyeknya. Suraji semakin eksis dengan teknik kerok-nya  dengan visualisasi pameo binatangnya yang muncul dengan ide-ide tak terduganya.

Kurator pameran ini, Kuss Indarto mengatakan pameran kali ini kiranya adalah upaya serius yang kesekian kalinya bagi Sidji untuk menunjukkan kepada publik atas pencapaian yang telah diupayakannya.

Sebuah komunitas yang dibangun oleh "kohesi etnistas" memang belum memungkinkan untuk membangun ciri yang kuat dalam pencapaian karakter karya, mulai dari konsep, cara berpikir, hingga visualisasinya.

Publik dapat melihat kreasi masing-masing personal dengan sistem pengetahuannya sendiri-sendiri, dan membawa tema yang dimauinya sendiri-sendiri pula. Ini sebuah risiko wajar dan sekaligus tak terelakkan.

"Ada seniman yang telah mulai mumpuni sehingga dari tilikan dunia gagasan dan dunia bentuk atas karyanya telah dengan jelas memperlihatkan kualitasnya. Namun ada pula seniman yang pada presentasi karyanya kali ini diduga masih mengalami belitan problem teknis dan cara pandang terhadap tema tertentu yang masih bersahaja," ujarnya

Inilah risiko yang mesti siap ditangguk oleh Paguyuban Seni Sidji. Dan inilah agenda persoalan yang mesti disegerakan untuk terus-menerus dicarikan titik solusinya.

Kalau telah berketetapan hati menjadi seniman profesional tentu aspek pencarian, penggalian, dan pendalaman pada segi gagasan dan kebentukan yang diperlukan pada proses berkarya seni rupa mesti menjadi kesadaran mendasar untuk diagendakan.

Pameran lukisan karya seniman Bantul Timur yakni Dlingo, Jetis dan Imogiri di Tembi Contemporary tersebut, mengawali kiprah ruang pamer milik Valentine Willie di awal tahun ini, dengan perayaan sepuluh tahun Paguyuban Sidji yang akan berlangsung hingga akhir Maret mendatang.


Kirim Komentar Anda

Nama Lengkap :
Usia :
Website/Blog/URL :
Email :
Pesan :
This editor requires Internet Explorer 5.0+, Netscape 7.1+, Mozilla 1.4+, or an equivalent Gecko based browser. A regular textarea will be displayed instead.
Kode :
                 
 

Berita Terkait



RSS  RSS Feed
Sheraton Hotel
  • Paribasan

    baladewa (Jawa)

         pasukan dewa (Indonesia)

         an army of gods and goddesses (English)

     

    baladewa liang gapite

     

    Tidak mempunyai kekuasaan atau kekuatan lagi.

     


    Having no more power; powerless

     

  • Perhitungan Weton

     

    Silakan mengisi tanggal lahir Anda

     

  • Kesaksian

    Jogja adalah kota penuh cinta kalau buat aku. Di sanalah aku bisa mendapatkan sahabat, teman, saudara, keluarga dan cinta sejati... Thanks to gudegnet... ...
    Agung Hari W(27) - Pengusaha

    Indeks

     

  • Beritahu Teman

    Beritahu teman Anda tentang situs GudegNet

    Kode       

     

  •  

  •  

  • Google