Sosial Ekonomi

Penjual Busana: Lebaran Tahun ini Tidak Mampir Beringharjo

Oleh : Rahman / Jumat, 22 Mei 2020 17:51
Penjual Busana: Lebaran Tahun ini Tidak Mampir Beringharjo
Sejumlah pedagang terlihat duduk santai di depan lapak dagangannya pada H-2 Perayaan Idulfitri 1441 H di Pasar Beringharjo Yogyakarta, Jumat (22/5)Gudeg.net/Rahman

Gudeg.net- ‘Tahun ini Lebaran tidak mampir ke sini’, sepenggal kalimat tersebut keluar dari seorang ibu penjual busana di Pasar Beringharjo Yogyakarta.

Ifa pedagang busana yang telah belasan tahun berjualan di salah satu pasar terbesar di Kota Yogyakarta ini merasa, Idulfitri tahun ini sangat jauh berbeda dari sebelumnya.

“Baru kali ini setelah 12 tahun saya membuka lapak baju disini, tahun ini benar-benar sepi dan banyak toko yang memilih untuk tidak buka,” ujar Ifa saat ditemui di Pasar Beringharjo Yogyakarta, Jumat (22/5).

Pantauan GudegNet, suasana sesak dan proses tawar menawar harga antara penjual dan pembeli tidak terdengar lagi sejak masuk hingga ke dalam pasar. Yang terdengar hanya suara para penjual yang saling berkeluh kesah atau sekedar mengobrol untuk membunuh waktu.

Baju-baju yang tergantung pada tembok dan bilah besi pajangan tidak lagi ramai dipegang atau dicoba oleh para calon pembeli. Lorong-lorong pasar yang biasanya dipadati warga yang berburu kebutuhan lebaran kini tidak lebih bagaikan lorong kosong yang tidak bertuan.

“Suasana sepi ini sejak adanya corona mas, sejak Maret kami sudah tidak merasakan lagi kemeriahan pasar ini. Yang ada cuma satu dua orang, itupun hanya lalu lalang saja. Sedih kami tapi mau gimana lagi,” keluh Ifa sambil duduk dibangku kecil lapaknya.

Masuk ke bagian dalam pasar, suasana tidak ubahnya seperti bagian depan tetap sunyi sepi, yang ada hanya beberapa karyawan toko yang setia berdiri menunggu pembeli.

Kapstok-kapstok yang telah dipasangi busana model keluaran terbaru hanya menjadi pajangan. Tangga-tangga kuning khas Pasar Beringharjo yang biasanya dipenuhi para pengunjung untuk sekedar duduk beristirahat pun kini kosong.

Menurut Ifa, sejak awal wabah corona menyerang Yogyakarta dan mewajibkan tutup, seluruh pedagang busana mengeluh, mulai dari pemilik hingga karyawan.

“Kalau penjualan sepi seperti ini banyak karyawan yang di rumahkan karena pemilik tidak bisa membayar gaji mereka. Ada yang dikasi pesangon dan ada juga yang langsung di PHK,” tuturnya.

Biasanya menjelang sore Ifa bisa menjual busana sekitar 20-25 buah namun saat ini hanya bisa menjual maksimal 5-8 baju saja dalam sehari.

“Sejak corona mewabah, kami hanya bisa bertahan dan jauh dari kata cukup. Tidak tahu sampai kapan dan para pedagang lainnya hanya bisa berharap virus corona cepat berlalu,” ungkapnya.

Walaupun sepi namun Ifa dan sejumlah pedagang lainnya tetap memutuskan untuk membuka lapak dagangannya hingga Hari Raya Idulfitri yang jatuh pada Sabtu, 24 Mei 2020 lusa.

“Kami akan tetap buka, yah mudah-mudah masih ada rezeki untuk kami mendekati hari raya besok. Akan tetapi bila tetap sepi, kami hanya bisa bersyukur dengan apa yang kami dapat,” kata dia.

Walupun pihak pengelola pasar telah menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 bagi pengunjung akan tetapi tidak bisa membuat pasar utama di Kota Yogyakarta ini menggeliat.

0 Komentar

    Kirim Komentar

    jogjastreamers

    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    GERONIMO 106,1 FM

    GERONIMO 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    ARGOSOSRO FM 93,2

    ARGOSOSRO FM 93,2

    Argososro 93,2 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini