Hero of The Day

Cristina Duque: Dari Ekuador ke Yogyakarta Membawa Cinta

Oleh : Trida Ch Dachriza / Kamis, 19 Agustus 2021 23:00
Cristina Duque: Dari Ekuador ke Yogyakarta Membawa Cinta
Cristina Duque dan kucingnya, Lila-Gudegnet/Trida

Gudeg.net—Sosoknya halus dan manis. Namun, saat ia berbicara mengenai menari dan kebudayaan Jawa, Cristina Duque sangat berhasrat dan berapi-api.

Perempuan berkebangsaan Ekuador ini menginjakkan kaki di Yogya tahun 2019 silam. Kecintaannya pada budayalah yang membawanya hingga ke sini.

Walaupun ia biasa berkeliling negara lain untuk menari, tetapi Yogya berbeda. Ini pertama kalinya ia menetap di negara lain.

“Saya selalu ingin ke Asia, mempelajari budaya Asia,” ujar perempuan bernama lengkap Cristina Alexandra Duque Martinez ini saat berbincang dengan Gudegnet di kediamannya di Kasongan, Bantul, pekan lalu.

Berasal dari desa Valle del los chillos, Ilalo di Ekuador, ia mewarisi darah seni dari ayahnya. Menurut ibunya, setiap ada musik Cristina yang masih berada dalam perut selalu menendang dan meninju. Bisa dikatakan dia sudah menari sebelum ia lahir.


Dok. Cristina

Uniknya, Cristina memulai dari teater, bukan menari. Saat ia berusia 13 tahun, ia belajar teater di ibukota Ekuador, Quito. “Di sana tidak ada seperti SMK di sini, bisa belajar dari sekolah. Jadi kami harus ke conservatorio,” ceritanya.

Konservatori di Ekuador adalah semacam sekolah persiapan (prep school) sebelum mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai minat.

Ia mempelajari teater di Conservatory Casa del la Cultura Ecuatoriana selama 10 tahun. Pada umur 19 tahun, ia belajar menari kontemporer. Di saat inilah ia mulai sangat mencintai tradisi dan budaya.

“Saya mulai mencari budaya dari mana-mana, ke desa-desa. Saya senang mencari budaya, tapi di daerah desa,” celotehnya.

Ia belajar tari-tarian dari berbagai daerah pesisir, gunung, hingga hutan. Ia juga mempelajari tarian tradisi dari berbagai negara lain seperti Kuba, Meksiko, Brazil, dan lainnya.

“Di dalam budaya ada banyak ilmu untuk hidup. Saya (mempelajari) seni kontemporer, teater, tetapi inspirasi saya sangat dekat dengan tradisi. Saya merasa tradisi memiliki semua; ilmu, filosofi. Saya selalu mencari tradisi untuk direkonstruksi menjadi bahasa kontemporer,” ungkapnya.

Dua belas tahun yang lalu perempuan kelahiran 4 Juni 1988 ini bekerja dengan seorang berkebangsaan Italia di sebuah perusahaan teater multinasional. Ia memiliki banyak topeng, salah satunya dari Bali, topeng Leak. Ia sangat terkesima dengan topeng tersebut, hasrat untuk mempelajari kebudayaan Asia bermula dari sini.

Pada tahun 2018 ia bekerja sebagai penari di Kedutaan Besar Indonesia untuk Ekuador. Di sana ia bertemu dengan orang-orang yang menyemangatinya untuk mendaftar program beasiswa di Indonesia.

“Mereka bilang, ‘Eh, Cristina kamu bagus, kamu harus ke sana (Indonesia). Ada beasiswa’. Lalu saya daftar ke program Darmasiswa,” ujarnya lagi.

Ia lalu mendapat beasiswa untuk menempuh pendidikan magister di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sayangnya, saat ia baru menjalani satu semester, pandemi menghantam Indonesia, sehingga kelasnya ditangguhkan.


Cristina bersama orang-orang dari Kedutaan RI di Ekuador/Dok. Cristina

Saat harus di rumah saja, ia merenung. Ia tidak ingin berdiam diri di rumah dan tidak mempelajari apa-apa. Ia memutuskan untuk menemui orang-orang tari yang terkumpul di Komunitas Lima Gunung. Cristina sempat berkenalan dengan komunitas ini sebelum pandemi.

Bermodal nekat, ia pergi sendiri ke Magelang dan Salatiga dengan mengendarai motor. Tidak tanggung-tanggung, ia bahkan cukup berani sampai ke Bandung.

“Saya senang, karena merasa sangat amat. Saya merasa sangat dekat dengan orang sini (Indonesia), sangat santai,” ujarnya.

Ia belajar wayang wong di suatu padepokan yang berdiri dari tahun 1937 di desa di Magelang. Di siang hari, orang-orang di padepokan tersebut bertani, sore mereka latihan di padepokan tersebut.

Saking dekatnya ia dengan orang-orang tersebut, ia dianggap cucu dan diberi nama Indonesia, Drupadi Ayuningtyas.

Ia benar-benar jatuh cinta dengan kebuadayaan Jawa. Ia merasa, mempelajari tarian saja tidak cukup. Ia ingin mengerti tarian itu, bukan hanya dari cerita, tetapi benar-benar memahaminya sendiri. Terlebih lagi, setiap tarian memiliki filosofi.

Ia pun bertekad untuk mempelajari bahasa Jawa kromo—ia juga mempelajari bahasa Jawa ngoko untuk berbincang sehari-hari—dan aksara Jawa.

“Wah, susah sekali belajarnya—angel. Sudah dua bulan kemarin tidak dipakai, sudah mulai lupa,” katanya sambil tertawa.


Cristina saat pentas di pertunjukan wayang wong/Dok. Cristina

Seni, menurut Cristina, sangat dekat dengan kehidupan. Terutama di masa sulit seperti sekarang ini, orang berpaling kepada seni untuk menyenangkan diri, entah melalui musik, buku, maupun film.

“Seni sangat sangat penting untuk hidup saya. Use art for education. Not to make artists, but to make human. Art can touch our feeling, our body, our mind. (Gunakan seni untuk pembelajaran. Bukan untuk menciptakan seniman, tetapi untuk menciptakan manusia. Seni menyentuh perasaan, tubuh, dan pikiran kita),” katanya.

Ia ditemani oleh seekor kucing di kediamannya, yang ia beri nama Lila lan Legawa Chandra Duque, panggilannya Lila. Ia menyebutkan nama kucing kesayangannya sambil tertawa. Ia senang dengan makna keikhlasan di balik nama tersebut.

“Kalau saya tidak ada dia (Lila), bisa gila,” katanya sambil terus tertawa.


Salah satu adegan tari di proyek 'Satu Darah'/Dok. Cristina

Dari 2019, ia sudah memiliki satu proyek tari lintas negara dan lintas disiplin yang berjudul ‘Satu Darah, One Blood, Una Sangre’. Ia menggabungkan bunyi-bunyian tradisi di Indonesia dengan bunyi tradisi negara lain. Tariannya ia ciptakan dari komposisi ini. Ia kini sedang dalam perjalanan untuk mewujudkan satu proyek lagi yang berjudul 'Earth is a Woman' di bulan September.


1 Komentar

  1. Freddy LĂłpez Rabu, 15 September 2021

    Realmente me enorgulle ser su connacional. Gracias por presentar la belleza de mi Patria en tierras tan lejanas.

Kirim Komentar


jogjastreamers

SWARAGAMA 101.7 FM

SWARAGAMA 101.7 FM

Swaragama 101.7 FM


GERONIMO 106,1 FM

GERONIMO 106,1 FM

Geronimo 106,1 FM


JOGJAFAMILY 100,2 FM

JOGJAFAMILY 100,2 FM

JogjaFamily 100,9 FM


GCD 98,6 FM

GCD 98,6 FM

Radio GCD 98,6 FM


ARGOSOSRO FM 93,2

ARGOSOSRO FM 93,2

Argososro 93,2 FM


RETJOBUNTUNG 99.4 FM

RETJOBUNTUNG 99.4 FM

RetjoBuntung 99.4 FM


Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini