Seni & Budaya

Pameran Karya dan Kilas Balik Achmad Charris Zubair

Oleh : Mohammad Jauhar Al Hakimi / Minggu, 31 Juli 2022 12:39
Pameran Karya dan Kilas Balik Achmad Charris Zubair
Pameran Karya dan Kilas Balik Achmad Charris Zubair di Museum Kotagede, Jumat (29/7) malam. (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

Gudeg.net – Tiga puluh enam lukisan karya budayawan asal Kotagede Achmad Charris Zubair (ACZ) dalam berbagai medium dan ukuran terpajang di pendopo, gedong dan pringgitan bagian sebelah timur pendopo Museum Kotagede Intro Living Museum Jalan Tegal Gendu No. 20 B Kotagede, Yogyakarta.

Pada pringgitan bagian belakang hingga gadri dipajang repro foto dokumentasi dan buku-buku karya ACZ.

Achmad Charris Zubair (baju biru, bertopi) memberikan penjelasan kepada pengunjung (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

Ketiga puluh enam karya tersebut dipajang bersama dengan buku-buku tulisan ACZ serta repro foto-foto dokumentasi. Pameran Karya dan Kilas Balik Achmad Charris Zubair dibuka pada Jumat (29/7) malam.

Berbeda dengan pendopo yang merupakan bangunan terbuka tanpa dinding, pendopo Museum Kotagede Intro Living Museum merupakan sebuah ruangan dengan dinding tembok dengan pintu pada masing-masing dinding untuk menghubungkan dengan bagian-bagian bangunan lain ataupun ruang utama (dalem).

Intro Living Museum Kotagede merupakan Rumah Kalang milik keluarga BH Noerijah yang dibangun pada tahun 1926. Setelah dibeli oleh Pemda DI Yogyakarta dilakukan restorasi dan ditetapkan sebagai Rumah Budaya Kotagede yang mulai bisa dikunjungi masyarakar luas sejak tahun 2018 sebelum akhirnya diubah namanya menjadi Museum Kotagede|Intro Living Museum.

Pengunjung sedang mengamati karya ACZ, Perempuan dan Pilar (kiri), Perempuan di Ketapang dan Angan (kanan) (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

‘Pameran Karya dan Kilas Balik Achmad Charris Zubair’ menjadi sinergi antara ACZ yang sejak tahun 1980-an telah menggagas berdirinya Pusat Dokumentasi dan Pengembangan Budaya Kotagede (1989) dengan Intro Living Museum untuk memperkenalkan kembali perjalanan Kotagede dalam kilas balik dokumentasi-arsip yang masih ada.

Di dalam Intro Living Museum, perjalanan Kotagede direkonstruksi kedalam empat klaster meliputi 1). Situs arkeologi dan lanskap sejarah; 2). Kemahiran (teknologi) tradisional; 3). Sastra, seni pertunjukan, adat tradisi, dan kehidupan keseharian; serta 4). Pergerakan sosial kemasyarakatan.

Memanfaatkan ruang penghubung untuk memajang karya (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

Di ruang utama (dalem) Rumah Kalang ditempatkan klaster arkeologi dan sejarah salah satunya Situs Watu Gilang dalam bentuk video mapping yang dinamis. Sementara pada bagian senthong lukisan dan repro foto tentang beberapa situs di Kotagede diantaranya Langgar-Omah Dhuwur dan Dalem Sopingen.

Gandhok tengen yang pada masa lalu menjadi ruang untuk menjalankan usaha pemilik rumah dalam bentuk usaha perdagangan batik, perhiasan, ataupun pegadaian, saat ini ditempatkan klaster Sastra, seni pertunjukan, adat tradisi, dan kehidupan keseharian.

Senthong Museum Kotagede|Intro Living Museum dari arah gadri (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

Sebuah ruang emper wingking bagian kanan Intro Living Museum ditempatkan klaster kemahiran (teknologi) tradisional berupa proses pembuatan kerajinan perak dari awal hingga menjadi sebuah karya kriya seni. Begitupun pada gadri yang berada di bagian paling belakang Intro Living Museum.

Achmad Charris Zubair dalam Jejak Langkah Pendokumentasian Kotagede

Charris dikenal sebagai pencatat dan pendokumentasi tentang sejarah secara luas dan terutama sejarah  masyarakat Kotagede. Pada tahun  1980-an  Charris bersama Darwis Chudori, dan Siti Waringah berdiskusi untuk penginisiasi Pusat Studi Dokumentasi dan Pengembangan Budaya Kotagede,   hingga  akhirnya pada 1989 Pusdok berakte notaris dengan nama Pusdok Kotagede.

Dari hanya sebuah diskusi dari pemikiran mereka yang kemudian berkembang dan dikembangkan serta dikumpulkan menjadi wacana-wacana dan narasi, pusat studi tersebut mengumpulkan segala informasi yang menyangkut Kotagede secara manual dan sistematis baik berupa dokumen, foto, kebudayaannya, sejarah industrinya, rumah warisan, melakukan konservasi terhadap lingkungan sosial budaya (menurut arus sejarahnya dan arsitektur tradisionalnya) serta mengorganisir kelompok untuk melakukan pengembangan kegiatan budaya.

Video mapping tiga dimensi tentang situs arkeologi dan lanskap sejarah di ruang utama (dalem) (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

“Kotagede keistimewaannya karena ia adalah suatu kawasan yang unik. Karena itulah Kotagede ditetapkan sebagai salah satu dari lima kawasan cagar budaya di Yogyakarta, yakni Kotagede, Keraton Yogyakarta, Pakualaman, Kota Baru, Imogiri dan ditambah bukit purba di Nglanggeran. Apabila suatu wilayah sudah disebut sebagai kawasan cagar budaya, maka dia harus dilindungi, dirawat dan harus bermanfaat.” papar Achmad Charris Zubair dalam buku berjudul ‘Penjaga Api Sejarah –Biografi Achmad Charris Zubair’, terbitan Prodi Kearsipan-Sekolah Vokasi UGM (2018).

Dalam buku tersebut Charris Zubair memaparkan asal mula masyarakat Kotagede banyak menjadi pengrajin emas, perak dan tembaga adalah karena kebutuhan kerajaan, baik itu perhiasan, perangkat makan, hiasan, suvenir, dan sebagainya. Pasti berasal dari logam mulia. Pada waktu itu masyarakat Kotagede mencari pekerjaan ke keraton Yogyakarta, kemudian banyak yang tertarik menjadi pengrajin karena penghasilannya yang memuaskan. Selain itu ada juga pengaruh dari istri Gubernur Hindia Belanda yang ada di Kotagede, ia banyak memberikan ide-ide kerajinan perak, tembaga yang banyak laku di pasar Eropa, salah satu kerajinannya adalah ‘bon-bon’ atau tea set, cigarette set, coffee set, dan lain-lain. Coffee set atau Tea set biasanya dijadikan sebagai mas kawin oleh orang-orang Belanda.

Tujuan awal didirikannya yayasan ini adalah untuk mengumpulkan narasi-narasi dan dokumentasi seputaran Kotagede untuk dijaga kelestariannya. Kemudian berkembang menjadi lebih luas lagi, tidak hanya mengumpulkan tetapi melestarikan dan mengembangkan kebudayaan-kebudayaan yang sudah mulai luntur di Kotagede.

Dalam perkembangannya, banyak warga yang lebih memilih untuk meninggalkan rumah joglo dan beralih ke rumah modern. Adanya perubahan sosial dan krisis di segi ekonomi, mendorong Charris untuk melakukan revitalisasi mutlak yang disosialisasikan pada masyarakat dengan cara perlahan-lahan melakukan pendekatan dengan penduduk.

Ketika itu Yayasan PUSDOK menyediakan paket wisata khusus, dimana para wisatawan dapat melihat langsung dan diharapkan dapat menghargai adat istiadat di Kotagede. Dengan jenis wisata ini, Charris selaku pendiri Yayasan Pusdok ingin merevitalisasi Kotagede.

Paket wisata tersebut sudah dikemas dalam program perjalanan berdasarkan rute yang diinginkan wisatawan. Yayasan Pusdok juga menyediakan beberapa rute, yang biayanya sendiri tergantung seberapa banyak rute yang dipilih dan jumlah rombongan yang ikut dalam perjalanan. Dalam paket tersebut juga disediakan tawaran untuk menikmati makanan tradisional seperti yangko, sate karang, kipo, sate jaran, dan lain-lain.

Sebelum mengadakan paket wisata seperti ini, Charris juga memperhatikan aspek perekonomian penduduk, misalnya memberikan fee kepada RW atau rumah yang dikunjungi dan juga mendidik warga Kotagede menjadi pemandu wisata. Prinsipnya masyarakat harus memperoleh manfaat dari program wisata ini. Dalam catatan Pusdok Kotagede melalui pendekatan tersebut pelan-pelan seluruh masyarakat menjadi lebih aktif memelihara potensi Kotagede.

Pada tahun 1998, yayasan ini berubah nama menjadi “Pusat Studi Dokumentasi dan Pengembangan Budaya Kotagede. Pada tahun 1999, Yayasan PUSDOK berkontribusi dalam merevitalisasi kebudayaan dan kesenian lokal di Kotagede dengan mengadakan ‘Festival Kotagede’.

Dalam perjalanannya Pusdok Kotagede menjadi salah satu cikal bakal wacana pembentukan Museum Kotagede|Intro Living Museum yang diperkenalkan kepada publik dan bisa dikunjungi secara terbatas dengan penerapan protokol kesehatan pada 10 Desember 2021.

Langgar Dhuwur (atas), Perempuan (bawah) – Achmad Charris Zubair – 2022 (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

Selain dikenal sebagai budayawan Kotagede, Charris Zubair juga dikenal sebagai akademisi dengan menjalani tugas sebagai dosen di Fakultas Filsafat UGM hingga tahun 2017. Beberapa karya buku yang ditulisnya diantaranya : 1989 - Kuliah Etika, (Rajawali Press Jakarta, 1989),  Metodologi Penelitian Filsafat, diterbitkan Kanisius Yogyakarta, 1991, Dari Kematian ke Epistemologi Dakwah (Philosophy Press Yogyakarta, 2001), Etika dan Asketika Ilmu, (Nuansa Ilmu Bandung, 2002), Etika Rekayasa Menurut Konsep Islam (Pustaka Pelajar, 2002),  Science As Humanity Phenomena, (Fakultas Filsafat UGM, 2013), Panggung Sandiwara Kehidupan Manusia (Lintas Nalar Yogyakarta, 2020).

Memajang foto arsip-dokumen di teras gadri  (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

Satu pernyataan penting disampaikan Charris Zubair bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang membentuk kita, karena kita tidak bisa memilih kita lahir dimana, dari ras apa, dan hidup di lingkungan yang bagaimana. Hal itulah yang membentuk karakter budaya kita dan kita tidak bisa mengingkarinya. Oleh karena itu manusia hidup tidak dapat jauh dari akar kultural. Akar kultural yang tumbuh itulah yang membentuk energi positif untuk diri kita maka manusia yang berhasil bukanlah yang meniru orang lain, tetapi yang menjadi diri sendiri.

Gandhok tengen digunakan sebagai klaster sastra, seni pertunjukan, adat tradisi, dan kehidupan keseharian  (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

Pameran Karya dan Kilas Balik Achmad Charris Zubair di Museum Kotagede|Intro Living Museum Jalan Tegal Gendu No. 20 B Kotagede, Yogyakarta berlangsung hingga 6 Agustus 2022 dengan penerapan protokol kesehatan.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    GERONIMO 106,1 FM

    GERONIMO 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini