Seni & Budaya

“Silent Energy”, Yogyakarta dalam Pusaran Perdagangan, Pariwisata, dan Darurat Sampah

Oleh : Mohammad Jauhar Al Hakimi / Senin, 12 September 2022 14:24
“Silent Energy”, Yogyakarta dalam Pusaran Perdagangan, Pariwisata, dan Darurat Sampah
‘Silent Energy’ (paling kiri) karya Gunadi dalam Pameran Tunggal Satu Karya di Studio Kutunggu di Pojok Ngasem, UWM (Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)

Gudeg.net – “Sebenarnya dari pengelolaan sampah kita bisa melihat seberapa baik kota atau satu daerah itu beradab. Tidak cukup dengan adanya pembangunan, penambahan objek strategis, namun juga tatakelola sisa hasil akhirnya.” ujar seniman-perupa Gunadi dalam obrolan santai dengan Gudeg.net, Sabtu (11/9) sore.

Upcycle art, berkesenian dengan memanfaatkan sampah-limbah menjadi karya seni menjadi pembacaan banyak seniman ketika limbah-sampah plastik menjadi masalah serius bagi lingkungan. Base on research, sebagian besar karya seni yang dihasilkan Gunadi berawal dari riset kecil-kecilan melihat realitas lingkungan sekitarnya dengan pembacaan pada permasalahan lingkungan dan juga sosial. Sampah-limbah domestik salah satunya terutama tas plastik bungkus, plastik kemasan berlapis allumium foil, dan juga styrofoam.

“Boleh dibilang (Kota) Yogyakarta sudah darurat sampah sejak lama. Ini bisa terlihat dari titik awal hingg akhir dari sampah tersebut bermula. Pasar yang ada di kota ini, misalnya, menurut pendapat saya darii sanalah salah satu titik terbesar sampah mulai bergulir selain pada objek-industri pariwisata, perkantoran, dan juga sampah rumah tangga.” papar Gunadi.

Dengan luasan 3.250 ha, berdasarkan data BPS tahun 2020 kepadatan penduduk Kota Yogyakarta sebesar 13.413 jiwa/km2. Dibanding empat kabupaten di wilayah Yogyakarta yang memiliki kepadatan penduduk dibawah 2.200 jiwa/km2, Kota Yogyakarta memerlukan daya dukung lingkungan dari wilayah sebelah-menyebelah. Sebagai kota yang mengandalkan perekonomian dari sektor perdagangan dan pariwisata, akomodasi untuk wisatawan maupun pengunjung lainnya menjadi satu keharusan.

Hingga Juli 2022 jumlah wisatawan di Kota Yogyakarta mencapai 3,9 juta, angka tersebut masih dibawah angka saat kondisi tidak dilanda pandemi. Terdapat 12 pasar tradisional serta 7 pasar modern, sementara jumlah hotel mencapai 113. Permasalahan perkotaan Kota Yogyakarta masih seputar pertumbuhan dan kepadatan penduduk, sampah perkotaan, dan kesehatan masyarakat.

Sejak kondisi TPA Piyungan tidak mampu menampung sampah dalam jumlah lebih banyak lagi, pengelolaan sampah di wilayah Yogyakarta masuk status darurat sampah. Data Bappeda DIY menyebutkan pada tahun 2021 setidaknya terdapat 58,2 % sampah yang belum tertangani atau setara dengan jumlah produksi sampah yang mencapai 1.005,43 ton/hari.

“Permasalahan sampah perkotaan di Kota Yogyakarta hingga saat ini adalah ketiadaan regulasi atau aturan yang secara khusus layak dan serta dapat dipraktikkan dengan pas secara masif di masyarakat. Ini tentang niat baik yang diimplementasikan dengan baik dan serius. Dalam bahasa lain ini ada semacam kemalasan dari pengelola wilayah akan permasalahan sampah perkotaan.” kritik Gunadi.

Gunadi menyebutkan sampah plastik masih menjadi masalah utama penanganan sampah di wilayah Yogyakarta. Meskipun telah dibentuk bank-bank sampah, penyerapan sampah plastik tidak sampai 1% dari sampah plastik yang ada berupa botol-botol plastik ataupun plastik kemasan berlapis allumium foil dan sejenisnya.

Dia menjelaskan dalam hal serapan yang ada merupakan serapan akan nilai ekonomis dari sampah itu sendiri ditilik dari harga jualnya di pasar, sementara kuota utama dari sampah sendiri masih didominasi akan sampah organik dan non organik. Ketidakmauan menyerapnya karena juga terkendala banyak hal mulai dari regulasi, kemampuan olah, hingga adanya pihak-pihak yang ‘bermain’.

“Kalau boleh dibilang problem utamanya adalah ketidakmautahuan akan masalah tersebut, sedangkan yang tahu atau sudah mengelolannya tidak terdukung dengan pas. Masalah sampah perkotaan di Kota Yogyakarta pada akhirnya hanya menjadi opini ketidakmauan untuk mengelolanya lebih lanjut.” imbuh Gunadi

Sebagai salah satu bentuk layanan publik, pengelolaan sampah pada dasarnya merupakan ranah dan tanggung jawab pemerintah. Namun masih banyaknya kendala yang dihadapi dalam pengelolaan sampah mulai dari hal teknis, infrastruktur, sumber daya, aspek hukum, tatakelola dan kerangka kelembagaa, hingga partisipasi warga terkait kebiasaan dalam penangangan sampah domestik, sehingga pengelolaan sampah menjadi hal yang penting dilakukan di semua tingkatan baik masyarakat maupun pemerintahan.

“Pemilahan dan pengolahan yang selama ini digaungkan bukanlah merupakan solusi paling ideal karena didalamnya masih akan ada residu yang tak terolah terutama jika dikaitkan dengan nilai ekonomis, penyerapan secara maksimal dengan mengembalikan sampah pada siklus pakai dari penciptaannya. Saya rasa bisa sedikit membantu tapi dengan banyak dukungan semua yang terkait dalam hal ini. Apalagi kalau bicara sampah ibarat urunan arisan semua orang pasti ikut andil akan apa yang ada.” papar Gunadi

Garbage is the energy of the future

Agustus 2018 Komunitas Sakatoya menggelar sebuah pementasan teater ekologi dalam penyajian dramatic reading di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjaseomantri (PKKH)-UGM dengan judul “Octagon Syndrome” dengam properti panggung memanfaatkan botol-botol plastik bekas yang sudah dibersihkan. Dengan menempatkan penonton menyatu dalam panggung pertunjukan membuat pementasan "Octagon Syndrome" menjadi lebih dramatis karena penonton mengalami langsung bahkan menjadi bagian dari pementasan itu sendiri. Dan realitas hari ini plastik kemasan seolah menjadi sebuah keharusan dalam banyak pemakaian sehari-hari.

Disadari ataupun tidak, ketika plastik kemasan tersebut menjadi sampah di alam adalah sebuah ancaman nyata mengingat lamanya terurai secara alami. Sampah plastik memerlukan waktu yang beragam agar dapat terurai di alam. Kantong plastik (kresek, plastik bungkus) memerlukan waktu antara 10-12 tahun untuk terdaur ulang.

Bulan Oktober 2018 bersama lima seniman-perupa Gunadi berpameran bersama di Bentara Budaya Yogyakarta mengangkat tajuk "Hip Hip Hura Hura". Ketika itu Gunadi mempresentasikan karya dua-tiga matra dalam teknik  dan medium yang berbeda. Pada karya tiga matra berjudul "Puplik Figure" Gunadi merangkai botol bekas lem, plastik tutup botol minuman dengan kabel membentuk figur burung sementara pada "Fragment an Ant series" yang dirangkai memanfaatkan plastik tutup botol minuman, tombol keyboard PC (personal computer) membentuk figur semut.

Gunadi menuturkan sebagian besar limbah plastik merupakan kemasan makanan kecil, plastik pembungkus/kresek, plastik kemasan berlapis alluminium foil tidak diserap oleh bank-bank sampah karena tidak memiliki nilai ekonomi dan hanya berakhir dan menumpuk di tempat penimbunan akhir (TPA).

“Yang menjadi masalah adalah yang berada pada timbunan di bawah 1 meter. Hampir-hampir sampah plastik tersebut tetap utuh dan tidak terurai. Belum ada penanganan terpadu pada sampah plastik tersebut. Jalan pintasnya biasanya dibakar yang justru membuat masalah baru dengan pencemaran udara yang tidak kalah berbahayanya dari proses pembakaran sampah plastik tersebut." kata Gunadi.

Menyadari hal tersebut sejak lama Gunadi melakukan eksperimen mengolah sampah plastik kemasan menjadi karya dua matra dengan menggunakan teknik hot engraving yang menjadi ciri khas karyanya dengan membuat sampah plastik kemasan  menjadi tumpukan-tumpukan (layer) untuk selanjutnya menjadi medium karya dengan proses disolder untuk membentuk pola-desain tertentu serta memunculkan warna dari hasil engrave tersebut.

"Minimal lima layer sampah plastik. Semakin banyak layer, warna yang dihasilkan menjadi semakin acak dan menarik. Semua jenis sampah-limbah plastik bisa digunakan, namun saya lebih banyak menggunakan plastik yang berwujud lembara dari kemasan sekali pakai. Kuncinya pada pengaturan temperatur menyesuaikan jenis plastiknaya.” ujar Gunadi.

Dalam proses eksekusi Gunadi lebih banyak bermain bentuk dan kontur. Gunadi menyebutkan warna yang muncul bisa berasal dari warna pembungkus ataupun efek panas dari alat penyolder. Temperatur mempengaruhi kecepatan leleh antar lapisan sekaligus berpengaruh pada tercampurnya warna dari bahan yang justru diluar dugaannya. Dalam hal ini Gunadi tetap mempertahankan detail karya.

Pada Solo Artworks Exhibition (SAE) edisi kelima periode II yang digelar di Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Gunadi mempresentasikan karya berjudul “Silent Energy” yang dibuat dengan citraan lukisan dalam medium hot engraving pada sampah-limbah plastik berukuran 48 cm x 35 cm.

“Dalam Silent Energy saya menambahkan limbah kawat logam tembaga yang dipilin dan dibentuk cincin menjadi tensor ring. Tensor ring menghasilkan pancaran energi dari proses penekanan pada waktu pembuatannya, yang disebut piezoelektrik. Secara umum tensor ring bisa meredam radiasi gelombang elektromagnetik dari perangkat-perangkat elektronik (televisi, gawai, wifi).” jelas Gunadi

Saat ini Gunadi mengembangkan karya tensor jewelry memanfaatkan limbah logam kawat kabel tembaga dalam karya kriya berbentuk cincin, liontin/pendan dan juga menggabungkannya ke dalam karya hot engraving-nya.

“Ketidakmauan mengelola secara pas terhadap sampah tersebut sudah terbentuk sedari awal. Kita punya banyak ahli, punya banyak kampus dan atau punya banyak ego-ego yang mampu mengurai hal tersebut. Masalahnya, dari semua yang ada itu tidak cukup memiliki kuasa dari lini birokrasi dan alur bawahnya.” Gunadi menambahkan.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Pemda DI Yogyakarta mencatat sampai dengan tahun 2020 rata-rata timbulan sampah di TPA Piyungan setiap hari sebesar 630 ton. TPA Piyungan dengan luas area sebesar 12,5 Ha telah mengalami overload sejak tahun 2012. Pemerintah DIY melakukan optimalisasi agar TPA Piyungan dapat digunakan sampai dengan 2023.

DLHK DIY menyebutkan selain kesadaran masyarakat dalam ikut berpartisipasi pada pengelolaan sampah, teknik operasional pengelolaan sampah yang dimiliki pemerintah juga belum optimal. Sarana dan prasarana pengelolaan sampah apabila dibandingkan dengan jumlah timbulan sampah yang ada di daerah perkotaan DIY masih belum mencukupi.

“Penanganan sampah kalau menurut saya cukup mengadaptasi cara ewoh atau hajatan orang Jawa. Dengan cara rewang atau gotong royong secara bersama, Apalagi kalau bicara sampah ibarat urunan arisan semua orang pasti ikut andil akan apa yang ada. Itu juga berlaku dalam pengelolaan pariwisata, salah satu aset yang digenjot dari tahun ke tahun selain dari wilayah penghasil sampah lain. Sederhananya datang dalam keadaan bersih pulang juga meninggalkan tempat secara bersih.” jelas Gunadi

Gunadi menambahkan sampah yang dihasilkan dari industri pariwisata cukup beragam dari yang tampak sampah kemasan berbagai kebutuhan dari wisata tersebut, hingga sampah yang tak terlihat yang mengalir di saluran limbah cair. Masih terdapat kerancuan dimana "sampah" hanya dilihat dari yang nampak dalan wujud benda padatan, sementara benda cair tidak karena dimasukkan dalam ranah limbah.

“Potensi ekonomi pengelolaan sampah itu sangat besar dan mampu menyerap banyak tenaga kerja. Ini riil. Dari sampah baik organik dan non-organik, bisa diperoleh penghasilan dengan menjualnya langsung. Pengolahan lanjutan bisa menghasilkan minyak, pupuk, bahan lanjut produksi furniture, belum lagi tambang logam berharga untuk sampah troniknya. Garbage is the energy of the future.” pungkas Gunadi.

Karya tunggal upcycle art berjudul “Silent Energy” yang dibuat Gunadi dipresentasikan di Studio Kutunggu di Pojok Ngasem UWM hingga 15 September 2022.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    GERONIMO 106,1 FM

    GERONIMO 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini