Seni & Budaya

Jejak Langkah Alie Gopal dalam “Carnaval” di Kesunyian Kota

Oleh : Moh. Jauhar al-Hakimi / Selasa, 21 Mei 2024 14:20
Jejak Langkah Alie Gopal dalam “Carnaval” di Kesunyian Kota
Suasana pembukaan pameran “Carnaval”, Sabtu (18/5) malam. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Gudeg.net. – “Dalam kehidupan sehari-hari semua (dari) kita melakukan karnaval secara tidak sadar. Karnaval (kehidupan) itu akan bergerak terus walaupun itu ramai ataupun sepi. Setidaknya akan terus berkelanjutan entah sampai kapan.

Kalimat tersebut disampaikan seniman-perupa Alie Gopal saat pembukaan pameran tunggalnya yang ketujuh bertajuk “Carnaval”, Sabtu (18/5) malam.

Sebanyak delapan karya instalasi, sembilan karya dua matra dalam medium cat akrilik di atas kertas berbagai ukuran, lima puluh karya series dua matra dalam medium cat akrilik di atas papan kanvas berukuran masing-masing 27,5 cm x 22,5 cm, tiga belas karya dua matra dalam medium cat akrilik di atas kanvas ukuran sedang (diatas 50 cm) karya Alie Gopal dipresentasikan di dua lantai Studio Kalahan Jalan Sidoarum-Ambarketawang No. 50, Patukan, Ambarketawang, Gamping-Sleman hingga 31 Mei 2024. Keseluruhan karya disajikan dalam citraan karnaval sebagai sebuah peristiwa, pelaku, hingga properti.

 

Menelusuri jejak karya Alie Gopal terkait peristiwa karnaval bisa dilihat saat Biennale Jogja X | 2009 : Jogja Jamming. Ketika itu karya Alie Gopal berjudul ‘Father Sky Mother Earth’ dalam medium  plat besi/alluminimum/fiberglass berukuran 330 cm x 140 cm x - 110 cm dipajang di kawasan Titik Nol Kota Jogja.

Secara khusus Alie Gopal mulai mempresentasikan karya-karya Karnaval sejak tahun 2018, meskipun pada tahun 2016 dia telah mengenalkan karya seni berbentuk topeng wayang yang dibuatnya menjadi properti pada Pawai Budaya 'Wayang Jogja Night Carnival' 2016. Ketika itu Kemantren Wirobrajan dengan tata gerak dan properti yang digunakan terpilih menjadi kontingen terbaik WJNC 2016.

Di tahun 2018 Alie Gopal menggelar dua pameran tunggal dalam skala yang berbeda. Pada bulan Maret rercatat enam puluh delapan judul karya dua-tiga dimensi dalam berbagai ukuran dengan 2 karya panel lukisan wajah berukuran kertas A5 sebanyak lebih dari 200 karya serta 2 karya panel lukisan di atas serat (fiberglass) sebanyak 21 buah berukuran 60 cm x 60 cm dipamerkan Alie Gopal di Taman Budaya Yogyakarta dalam tajuk “Main”. Meskipun tidak spesifik mengangkat tentang karnaval, namun jejak peristiwa dan keriuhan karnaval bisa dilihat pada keseluruhan karya ketika itu.

Baru pada Oktober 2018 Alie Gopal untuk pertama kalinya Alie Gopal mempresentasikan karya-karya dengan tema Karnaval dalam sebuah pameran seni rupa. Sebanyak lima karya series “Karnaval” dalam berbagai medium dan ukuran yang dipamerkan di Miracle art-print shop dalam dua-tiga matra menjadi "pembekuan" berbagai karnaval dalam perjalanan kreatifnya memotret beragam peristiwa dalam keramaian, euforia masyarakat, ataupun keintiman dirinya sendiri.

Projek “Karnaval” Alie Gopal terus berlanjut bahkan saat Pandemi melanda.  Dalam kebijakan PPKM Alie Gopal mempresentasikan karya instalasi terbarunya ketika itu berjudul “Karnaval Sunyi” pada Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2020. ‘Karnaval Sunyi’ ketika itu seolah menjadi kritik Alie Gopal atas hiruk-pikuknya perhelatan karnaval di Yogyakarta yang terkesan hanya berebut jumlah pengunjung. Dan kali ini Alie Gopal membekukannya di dinding ruang pamer dalam kesunyian dialog.

Karya tersebut mengingatkan pada pernyataan yang disampaikan Alie Gopal saat  menggelar pameran tunggalnya bertajuk “Karnaval” do Miracle art (2018) : "Berbagai pawai-karnaval yang dihelat di Yogyakarta sejauh ini baru terhenti pada seremoni sesaat. Hampir-hampir tidak ada pesan-pesan yang tersisa dan tersampaikan dari karnaval yang terekam untuk beberapa saat lamanya begitu acara selesai, kecuali rasa capai dan sampah-sampah di berbagai sudut area karnaval. Selain kemeriahan itu sendiri, karnaval sebagai salah satu wujud rekaman wajah masyarakat dalam keseharian (yang disajikan pada panggung berjalan) belum mampu membangunkan ingatan kolektif warga atas berbagai permasalahan yang dihadapinya dan solusinya."

Satu karya series dalam tema ‘Karnaval’ Alie Gopal berjudul “Hope n Pray” dipresentasikan pada Mei 2021 dalam program Presentasi Tunggal Satu Karya di Universitas Widya Mataram Yogyakarta bergantian dengan 19 seniman-perupa lainnya. “Hope n Pray” terdiri dari satu lukisan dan satu karya tiga matra dalam citraan festive di saat Pandemi yang dipenuhi dengan ancaman sekaligus harapan dan doa.

Sebanyak dua belas lukisan dalam medium cat akrilik di atas kanvas, dua karya digital painting yang dicetak di atas kertas, serta satu karya instalasi dipajang di ruang pamer Leman art house dengan pemadaman lampu ruangan pada Juli-Agustus 2022 menjadi presentasi tunggal Alie Gopal yang keena,. Keseluruhan lampu langsung tertuju pada karya. Dalam pola penyajian tersebut, Alie Gopal seolah sedang menghadirkan riuhnya karnaval-festival sebuah kota dalam ruang yang sunyi.

Pameran tunggal Alie Gopal bertajuk “Carnaval” dibuka oleh Gintani NA Swastika (Direktur Ruang Kolektif Ace House - Yogyakarta). Dalam sambutannya Gintani menyampaikan kontekstual karya-karya Alie Gopal yang secara konsisten menyoal tentang karnaval, keramaian, kerumumam massa, dan festival yang masih relevan hingga saat ini.

“Melalui momen ini kita diingatkan untuk selalu menyadari (bahwa) napas bukan hanya napas pragmatis-teknis namun menyadari bahwa napas kita yang menggerakkan dan mendorong kerja-kerja kebudayaan yang sekaligus merawat harapan agar kerja kebudayaan yang sedang kita upayakan mampu memancing estetika yang melahirkan daya untuk menyusun ulang teknologi hidup yang dipenuhi agenda bising yang sering membuat kita lupa bernapas.” papar Gintani.

Karnaval, Upaya Memotret Rupa Perkembangan Wilayah-Kota

Pengajar Universitas Negeri Yogyakata (UNY) Hajar Pamadhi dalam catatan pengantar pameran menuliskan karnaval menjadi alih rupa fungsi gambaran banyak hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Melukis figur wajah sebenarnya merupakan repetisi garis dan warna garis lengkung berwarna dominan disusun berurutan bahkan bertumpukan bagaikan tumpukan suara yang sunyi.

Wajah-wajah ditata dalam barisan karnaval ini mampu memberi nuansa karnaval watak. Repetisi watak ditata layaknya sebuah karnaval yang diselaraskan dengan tema silent carnival cenderung mengemas kontur dan warna dengan diakhiri oleh seni instalasinya. Garis lengkung berwarna yang disusun seperti anyaman sehingga melakukan teknis repetisi ini, peserta akan merasakan seperti menganyam warna menjadi susunan yang memberikan karya penuh dialog dengan warna.

Hajar menambahkan diharapkan tatakelola seperti ini akan mampu menciptakan hal-hal yang menambah pengetahuan dan rasa meditatif dalam interaksi sosial, kadang sebagai kalukuls matematika, dan psikologi warna.

“Kini, karnaval menjadi salah satu media yang efektif untuk menyampaikan banyak hal dalam perayaan ada gagasan, pemikiran, ekosistem, kritik, sosial, politik (atau hanya sekedar kemeriahan semata). Karnaval tetap berjalan walaupun sunyi namun menghasilkan perjalanan yang aneh dan trippy (sesuatu yang surealisme atau halusinasi, seringkali dikaitkan dengan pengalaman yang mengubah pikiran atau psikedelik yang dipenuhi musik halusinogen atau suasana yang menginduksi rasa energi).” papar Hajar Pamadhi.

Dalam perspektif yang sedikit berbeda, Sosiolog Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta Puji Qomariyah dalam tulisan pengantar pameran memaparkan dengan sifat karnaval sebagai peristiwa seni-budaya yang disajikan berbasis waktu (time based art) dengan terfokus pada performance art serta properti pendukungnya, dimana ketika karya tersebut selesai dipresentasikan maka selesailah peristiwa tersebut.

Dalam bingkai tersebut, karnaval masih sering digelar di berbagai wilayah di Yogyakarta dalam rutinitas semata tanpa meninggalkan jejak-jejak bagi perkembangan kota maupun masyarakatnya. Karnaval menjadi sebuah kesunyian lain dari hingar-bingarnya kota yang terus berlari mengejar mimpinya.

“Karnaval kerap dijadikan sebagai etalase sekaligus ukuran perkembangan budaya suatu daerah. Budaya yang merupakan produk olah pikir-cipta-rasa manusia dalam memandang ruang hidup dan kehidupannya, menjadi wujud relasi antarmanusia yang terus berkembang dan berubah sepanjang waktu dan peradabannya.” jelas Puji pada Gudeg.net., Sabtu (18/5) malam.

Lebih lanjut Puji menambahkan mendaku wilayahnya sebagai destinasi wisata, Yogyakarta harus mulai berbenah dalam pengelolaan program yang terkait dengan aktivitas pariwisata, seni, budaya sepanjang tahun dan tidak terbatas pada waktu-waktu liburan ataupun akhir tahun. Berbagai kegiatan yang tersebar secara kewilayahan, lintas sektor, melibatkan partisipasi warga dalam wilayah yang luas, serta terselenggara sepanjang tahun menjadi ukuran keberhasilan program pembangunan sosial-ekonomi dan sumberdaya manusia yang disusun dalam sebuah program yang terencana sepanjang tahun. Dengan begitu, program-program pembangunan sebagai bagian untuk peningkatan ekonomi dan pengembangan wilayah bisa semakin berdaya bagi warganya.

“Setelah selesai, ruang-ruang kota kembali menjadi sunyi dan hanya lalu-lalang pengunjung yang perlahan-lahan hilang dari sudut-sudut kota. Bagaimana dengan sampah yang ditinggalkannya? Belum tumbuhnya kesadaran bersama telah menempatkan sampah menjadi karnaval ‘kesunyian’ lain saat wilayah Yogyakarta dalam realitasnya dikepung oleh darurat sampah maupun permasalahan sosial-ekonomi lainnya kemacetan, ruang terbuka hijau, daerah resapan air, ruang publik yang ‘terprivatisasi’ dan seterusnya hingga saat ini. Ini (karnaval kesunyian) yang masih sering terjadi sampai saat ini.” imbuh Puji.

Karnaval kehidupan selalu hadir dalam realitas setiap individu bahkan pada titik paling sunyi sekalipun sebagaimana dikatakan Alie Gopal enam tahun silam.

“Fenomena ‘karnaval di kesunyian’ masih kerap terjadi dan banyak dijumpai di berbagai tempat, tidak hanya di Yogyakarta.” pungkas Puji.

Bagaimanapun pada kota yang humanis, manusia adalah rupa kota itu sendiri. Budaya dan kota tidak akan tumbuh dalam perjumpaan warganya yang tuna ruang perjumpaan dan tuna perjumpaan yang hangat dalam berbagai aras-arah.

 


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    IRADIO 88.7 FM YOGYAKARTA

    IRADIO 88.7 FM YOGYAKARTA

    100% Musik Indonesia, Cinta Musik Indonesia.


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini