Gudeg.net - Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Pengembangan Budaya Digital menggelar “Kirana Viramantra”, sebuah perayaan seni multimedia yang memadukan teater, musik, tari, dan video mapping untuk memperingati Hari Pahlawan 2025. Acara berlangsung di fasad Monumen Yogya Kembali (Monjali) dan menampilkan kolaborasi Mantradisi serta Sanggar Seni Sekar Kinanti lewat pementasan utama “Goro-Goro Diponegoro”.
Nama Kirana Viramantra berasal dari bahasa Sanskerta—kirana berarti cahaya, viramantra berarti pahlawan dan doa—melambangkan penghormatan kepada para pahlawan melalui elemen cahaya dan seni.
Direktur Pengembangan Budaya Digital, Andi Syamsu Rijal, menyatakan bahwa Kirana Viramantra dirancang sebagai medium refleksi, bukan sekadar pertunjukan. “Melalui kebudayaan yang dijaga nilainya, Monumen Jogja Kembali hadir sebagai ruang pembelajaran tentang hubungan manusia dengan sejarah,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya membuat kebudayaan tetap relevan bagi generasi baru tanpa meninggalkan nilai luhur.
Pementasan “Goro-Goro Diponegoro” merupakan naskah yang diperbarui sekitar delapan tahun lalu dan tahun ini dibawakan dalam format drama musikal berbasis Macapat. Pertunjukan tersebut menafsir ulang semangat perjuangan Pangeran Diponegoro melalui perpaduan seni tradisi dan teknologi digital.
Kepala Museum Monumen Yogya Kembali, Yudi Pranowo, menyambut positif penyelenggaraan Kirana Viramantra yang melibatkan seniman, komunitas kreatif, dan UMKM. Menurutnya, museum tidak hanya menjalankan fungsi pelestarian sejarah, tetapi juga menjadi ruang publik yang inklusif. Ia menilai video mapping di Monjali mampu menjangkau generasi muda dengan cara yang lebih relevan.
Perwakilan mitra, Fayafla, turut mengapresiasi kesempatan berkarya dalam program ini. Ia menyebut Kirana Viramantra memberi ruang bagi seniman untuk merespons situs sejarah melalui instalasi cahaya dan berharap dukungan semacam ini berlanjut.
Selain pertunjukan utama, Kirana Viramantra menghadirkan Light Art Installation, Video Mapping Show, serta karya dari sejumlah seniman dan komunitas, termasuk Fayafla, Paguyuban Geger Boyo, dan Roby Setiawan. Sebelumnya, lokakarya video mapping oleh Lepaskendali Labs berlangsung pada 3–5 November 2025 dengan peserta dari berbagai latar belakang.
Salah satu penonton, Anggie, menyampaikan bahwa acara ini menawarkan pengalaman seni yang segar dan tidak membosankan. Ia berharap Kirana Viramantra dapat diselenggarakan secara rutin.
Kirana Viramantra menjadi upaya menghadirkan kembali nilai kepahlawanan melalui bahasa seni dan teknologi di ruang publik.




Kirim Komentar