Hiburan

Top 7 Fakta Mengejutkan Yang Membuatmu Mustahil Melewatkan Ngayogjazz 2015

Oleh : Albertus Indratno / Kamis, 12 November 2015 10:20

Tahun 2015 perhelatan musik jazz akbar Ngayogjazz kembali diadakan. Acara musik jazz rutin yang diawali 2006 ini menyimpan beberapa fakta menarik dan pantang dilewatkan. Tujuh diantaranya dirangkum tim gudeg.net dari beberapa sumber, antara lain ;

GRATIS!

Tiada penjelasan lainnya. Kata itu sendiri sudah menjadi daya tarik, selain kata lain seperti “diskon besar-besaran” atau “beli 1 gratis 2”.

Hadir dari kerja keras tujuh pria tampan dan six packs wanna be

Tahun 2007, pertama kalinya Ngayogjazz diadakan. Ide mengadakan pentas musik jazz kelas dunia bernuansa “ndeso” itu hadir dari seniman kondang Djaduk Ferianto bersama beberapa sahabatnya antara lain Hattakawa, Bambang Paningron, Ajie Wartono, Vindra Diratara, Hendy Setiawan serta Ahmad Noor Arief.

Dalam pentas tahunan itu musik jazz dikembalikan ke akarnya. Ide itu hadir dari pemahaman musik jazz sendiri. Jazz yang awalnya menjadi musik “kaum pinggiran” berubah menjadi musik yang dianggap milik golongan borjuis dan elitis. Lewat konsep yang “nyleneh” ini para konseptor tersebut berusaha menunjukkan jazz merupakan musik rakyat yang bisa diterima khalayak luas, bukan golongan tertentu saja.

Jika ingin tahu seberapa tampan dan six packs wanna be-nya mereka, ketik images.google.com lalu masukkan nama-nama tersebut.

Ada Sensasi “69”

Angka “69” menunjukkan dua peristiwa penting dalam sejarah Ngayogjazz. Pertama, tahun 2006.  Pada tahun itu direncanakan sebagai tahun pertama diselenggarakan Ngayogjazz. Naas, pada 26 Mei 2006, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) digoyang gempa bumi berkekuatan 5,9 scala richter.  Ngayogjazz pun dibatalkan. Setahun kemudian, pada 2007, Ngayogjazz pertama kali diadakan di Padepokan Seni Bagong Kussudiarja.

Kedua, tahun 2015 menjadi penyelenggaraan ke-9 hajatan Ngayogjazz.  Secara berurutan, tahun 2007 Ngayogjazz diselenggarakan di Padepokan Bagong Kussudiarja. Sedangkan tahun 2008 di desa Wisata Tembi,  Tembi, Sewon, Bantul. Tahun 2009 di Pasar Seni Gabusan, Bantul.

Tahun 2011, Ngayogjazz diselenggarakan pada Januari di pelataran rumah seniman lukis Joko Pekik dan November di pasar Kota Gede. Tahun itu diadakan dua kali karena letusan gunung Merapi dan menyebabkan kota Yogyakarta tertutup abu vulkanik di tahun 2010. 

Sedangkan pada 2012 diadakan di desa wisata Brayut, Pandowoharjo, Sleman. Tahun 2013 di desa Sidoakur, Jethak, Sleman. Lalu pada 2014 kembali diselenggarakan di desa wisata Brayut. 

Sedangkan lokasi Ngayogjazz 2015 masih dirahasiakan sampai paragraf ini selesai ditulis.

Beredar Kepercayaan “Sesat”; Nomaden No Cry

Penyelenggaraan Ngayogjazz selalu berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Meskipun sudah sukses selama delapan kali penyelenggaraan, penggiat Ngayogjazz terus berusaha menggabungkan musik jazz dan nuansa pedesaan di berbagai tempat berbeda.  Belum ada kepastian apakah tahun depan, Ngayogjazz akan diselenggarakan terus menerus di satu tempat, semisal gedung pertunjukan, gedung bioskop atau gedung manten.

Sedangkan ajakan “sesat”-nya benar-benar berhasil saat pengunjung menikmati musik berkualitas internasional dan bernuansa lokal tersebut. Bahwa desa pun pantas sebagai tempat artis-artis nasional dan internasional menunjukkan karya-karya mereka. Selain itu ada semangat gotong-royong, guyub rukun dan kekeluargaan diantara setiap pihak yang terlibat. Baik penyelenggara, penduduk desa, penonton serta perusahaan pendukung.

Selamat, Anda tersesat di jalan yang benar!

Semuanya Bintang Tamu di Ngayogjazz

Pentas Ngayogjazz terbilang unik. Pertama, semua band itu bintang. Meskipun ada artis-artis terkenal di tingkat nasional dan internasional, namun di Ngayogjazz mereka setara dengan berbagai kelompok musik komunitas dari berbagai kota di Indonesia.

Kedua, Ngayogjazz surganya improvisasi. Inilah wahana “nge-jam” atau berkolaborasi antara musisi, penonton, penyelenggara serta penduduk desa. Semakin menarik karena jarak antara penonton dan pemain musik juga dekat. Bahkan, bisa dikatakan tanpa sekat.

Beberapa artis nasional yang pernah tampil di Ngayogjazz diantaranya Syaharani and the Queenfireworks, Idang Rasjidi, Oelle Pattiselano, Tohpati, Dewa Budjana, Balawan, Rieka Roeslan, Trie Utami, Iga Mawarni serta Glenn Fredly.

Sedangkan artis internasional antara lain Toninho Horta, Harri Stojka, Mezcal Jazz Unit, Jen Shyu, Jerry Pelegrino, Erik Truffaz, Brink Man Ship, Baraka, dan D’Aqua.

Itu yang membuat Ngayogjazz selalu jadi “magnet”. Berdasarkan rilis dari penyelenggara, tahun 2014, pagelaran ini dihadiri lebih dari 26 ribu pengunjung.

Membangun jiwa jazzionalist

Tahun 2015, penggiat Ngayogjazz memilih tema Bhineka Tunggal Jazznya. Artinya, berbeda-beda tetapi tetap disatukan oleh jazz. Tema ini terinspirasi kalimat “Bhinneka Tunggal Ika” dari kitab Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular yang secara harafiah berarti beraneka itu satu.

Perbedaan menjadi pemersatu yang indah dan saling melengkapi. Semangat itu jugalah yang tercermin di musik jazz. Meski setiap pemain memunculkan gaya, corak serta teknik permainan yang berbeda, namun ketika dimainkan bersamaan justru menimbulkan harmonisasi yang indah.

Logonya pun menggambarkan semangat serupa. Lewat lambang burung Garuda yang terinspirasi burung Jatayu - garuda perkasa yang berusaha menyelematkan Dewi Sinta, penyelenggara menampilkan kebajikan, pengetahuan, keberanian serta disiplin. Harapannya, logo ini berhasil menyampaikan pesan keragaman dan harmonisasi di pagelaran Ngayogjazz 2015.

Lama Dirahasiakan, Akhirnya Lokasi Ngayogjazz 2015 Terungkap

Lokasi perhelatan akbar Ngayogjazz 2015 akhirnya dibeberkan secara gamblang. Desa Budaya Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Yogyakarta akhirnya terpilih sebagai tuan rumah Ngayogjazz 2015. Desa ini terkenal memiliki beragam kesenian tradisional seperti bregada, kethoprak, karawitan, mocopatan, wayang kulit serta jathilan. Selain itu tradisi gotong royong, bersih desa serta nyadran masih dijaga penduduk setempat.

Ada beberapa alternatif bagi Anda yang ingin ke Pandowoharjo. Antara lain dari perempatan Kentungan, jalan Kaliurang. Dari sana Anda belok ke kanan (utara) sampai di pertigaan jalan Damai.

Dari pertigaan itu belok ke kiri (barat) menuju pertigaan jalan Palagan Tentara Pelajar. Penandanya ada warung sate Jokopi di ujung (barat) jalan. Dari pertigaan itu belok ke kanan (utara) sampai ketemu lampu pengatur lalu lintas. Ada rumah makan Padang Sabar Menanti dan Indomaret di pojok jalan. 

Setelahnya, Anda bisa belok ke kiri (barat) sampai ke perempatan jalan Gito-Gati, Sleman. Jarak antara pertigaan sampai perempatan sekitar 2 kilometer. Dari perempatan itu belok ke kanan (utara) searah menuju rumah makan Jejamuran.

Ada beberapa gang di sebelah kiri (barat) jalan. Pada gang kedua, Anda bisa belok ke kiri.

Bagi Anda yang berasal dari luar kota Yogyakarta, untuk memudahkan mendapatkan informasi penginapan atau rental mobil terlengkap dan terbaru di sekitar lokasi Ngayogjazz 2015, klik www.gudeg.net.

1 Komentar

  1. Yustina Selasa, 17 November 2015

    Ini suatu kegiatan yg bagus untuk mengapresiasi budaya seni dan mempromosikan suatu tempat. Tapi juga harus perlu dipertimbangkan kenyamanan penduduk lokal serta ijin dari mereka. Karena walau bagaimanapun harus diperhatikan aspek mobilitas warga setempat serta penghormatan untuk warga setempat ,menghargai apa pendapat mereka sehingga kita sama2 nyaman dlm berkegiatan .sukses selalu untuk Ngayogjazz

Kirim Komentar

jogjastreamers

SWARAGAMA 101.7 FM

SWARAGAMA 101.7 FM

Swaragama 101.7 FM


JOGJAFAMILY 100,2 FM

JOGJAFAMILY 100,2 FM

JogjaFamily 100,9 FM


RETJOBUNTUNG 99.4 FM

RETJOBUNTUNG 99.4 FM

RetjoBuntung 99.4 FM


GERONIMO 106,1 FM

GERONIMO 106,1 FM

Geronimo 106,1 FM


RAKOSA 105,3 FM

RAKOSA 105,3 FM

Rakosa 105,3 FM


JIZ 89,5 FM

JIZ 89,5 FM

Jiz 89,5 FM


Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini